Pada LUSTRUM 8 kali ini
mengangkat tema “ANAK NAGARI”, yang mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki
keberagaman adat dan budaya, salah satunya budaya MINANG. Akan tetapi, seiring
perkembangan zaman, budaya ini semakin terkikis dan makin sedikit orang yang
peduli, mau memahami dan menjaga nilai-nilai budaya, terutama dari kalangan
pemuda.
Penonton yang datang sudah
memenuhi SABUGA sejak pukul 19.20 dimanjakan dengan 7 tarian, 3 musik (1
diantaranya aransemen), drama yang memukau, dan salah satu inovasi yang
dibawakan UKM pada Lustrum kali ini yaitu MAPPING PERFORMANCE. Selama hampir 4
jam, UKM memberikan penampilan yang membawa kita ke suasana kampuang nan jauh dimato, dakek dihati (kampung
yang jauh dimata, tapi dekat dihati).
Seperti acara DIES NATALIS
sebelumnya, acara dibuka dengan “Tari Galombang Pasambahan” yang dibawakan oleh
7 orang pria dan 7 orang wanita, tari ini biasanya ditampilkan pada saat
menyambut tamu seperti pada acara baralek gadang (pesta besar), mangangkek
panghulu (mengangkat pemimpin), atau acara resmi lainnya. Kemudian pembacaan
ayat suci Al-quran dan kata sambutan oleh ketua Lustrum 8, ketua UKM Itb, Bapak
Syahril Jafari (PT. Telkom), dan Bapak Rinaldi Munir selaku pembina UKM ITB,
dan pengumuman pemenang lomba Cerpen dan Fotografi.
Acara dilanjutkan dengan tarian
kombinasi yang menggabungkan 5 orang penari kipas, 6 pria pemegang bendera dan dan
2 pria dengan aksi silatnya. Selanjutnya ada penampilan lagu “MALALA”. Dan
drama pun dimulai (akan diceritakan nantinya). Penampilan selanjutnya adalah “Tari
Indang” yang menggambarkan pergaulan muda-mudi Minangkabau yang suka bercanda
dan mudah bergaul. Tari ini dimainkan oleh 12 pria. Tari selanjutnya adalah “Tari
Kipeh Marawa” yang dibawakan oleh 6 pria dan 7 wanita. Tari ini menggambarkan
sifat Bundo Kanduang yang memiliki sifat yang lemah lembut, tapi juga harus
siap dalam menghadapi masalah dan tegas dalam mengambil keputusan.
Selanjutnya ada “Tari Tapuak
Tingkah” yang menggambarkan keceriaan muda-mudi, hal ini terlihat dari temponya
yang cepat. Tari ini merupakan gabungan antara tari dan randai, dibawakan oleh
6 pria dan 4 wanita. Ada “Tari Rantak”, dibawakan oleh 6 pria dan 7 wanita.
Tari Rantak menggambarkan ketegasan dan kegagahan, digambarkan dengan gerakannya
yang menghentak-hentak. Sebelum ditutup, penonton disuguhkan dengan penampilan
lagu “BUGIH LAMO”. Dan pada penampilan puncak ada “Tari Piring”, dibawakan oleh
4 pria dan 4 wanita. Diakhir penampilan, 4 pria akan ‘menari’ diatas pecahan
piring yang membuat penonton menahan napasnya.
Penampilan Lustrum 8 ditutup
dengan penampilan MAPPING PERFORMANCE dan lagu Aransemen (Final Countdown +
Popeye). Penampilan dari musik sendiri sangat memukau penonton dengan
didominasi alunan talempong dan saluang membuat penampilan LUSTRUM 8 UKM ITB
menjadi sesuatu yang akan sulit dilupakan oleh para penikmatnya.
Dari drama, LUSTRUM 8 mengangkat
kisah tentang bagaimana adat yang ada di Minangkabau yaitu pergantian datuak
(pemimpin negeri). Syahdan, tersebutlah Datuak Rajo Ameh yang memerintah Negeri
Antah Barantah sudah berumur cukup tua dan sakit-sakitan. Datuak sendiri
memiliki 2 orang anak yaitu Bundo Sari dan Zulaikha. Bundo Sari memiliki anak
bernama Fernando yang sejak lahir hidup dan besar di Jakarta akan tetapi Bundo
Sari tidak pernah lupa untuk mengajarkan anaknya mengenai adat dan budaya
Minangkabau. Sedangkan Zulaikha memiliki anak bernama Kalam Manah yang sopan,
baik budi, dan rajin membantu orang tua. Masing-masing dari anak tersebut memiliki
MAMAK (Paman) yaitu RAMLI dan LABAI. Baik Labai maupun Ramli menginginkan
kemanakan nya yang menjadi pengganti Datuak Rajo Ameh yang telah meninggal.
Konflik dimulai saat musyawarah dilakukan, saat tidak mencapai kata mufakat
mengenai siapa yang akan menggantikan Datuak, maka diambil keputusan bahwa
Kalam Manah dan Nando akan diajari mengenai adat dan budaya Minangkabau oleh BUYA
SABA yang merupakan seorang alim ulama. Akan tetapi LABAI tidak setuju dengan
keputusan ini dan tetap bersikeras bahwa Kalam lah yang sepatutnya memangku
gelar Datuak. Konflik terus berlanjut saat Nando menyukai HALIMAH yang
merupakan anak Buya Saba, Kalam Manah sakit hati melihat kejadian ini karena
dia juga menaruh hati pada halimah. Dengan hasutan dari Labai, Kalam menyerang
Nando dan kawannya. Diakhir cerita, Kalam menyesali perbuatannya yang telah
melukai saudaranya sendiri hanya dikarenakan hasutan Labai. Dia merasa dirinya
tidak pantas menjadi datuak dikarenakan tindakannya. Akan tetapi Halimah
berusaha menguatkan hati Kalam agar ia tidak bersedih dan terus-terusan merasa
bersalah. Negeri yang kini porak poranda harus tetap memiliki seorang pemimpin
untuk membenahi semuanya, dan kalam lah yang pantas untuk meneruskan gelar
Datuak.
nb : Foto menyusul ya, InsyaAllah
Beberapa foto :